Selamat malam Tuhan, aku harap Engkau mau meluangkan waktuMu sebentar
disela-sela kesibukanMu untuk mendengar ceritaku hari ini. Untuk kesekian
kalinya Tuhan aku menceritakan hal yang sama kepadaMu, semoga Engkau tidak
bosan mendengarkann ceritaku yang sama berkali-kali. Iyaa..laki-laki itu (lagi)
Tuhan yang akan menjadi topik ceritaku malam ini. Aku sendiri bingung kenapa
aku tidak pernah bosan menceritakan dia kepadaMu, selalu saja ada hal-hal kecil
tentang dia yang membuat aku selalu bercerita tentangnya.
Engkau pasti sudah tau bagaimana kerasnya perjuanganku untuk
mengikhlskannya, bagaimana sulitnya aku menghilangkan bayang-bayang wajahnya
dari sistem kera otakku, dan Engkau juga pasti tau bagaimana besarnya usahaku
untuk dapat keluar dari rotasi kehidupannya. Hari ini tiba-tiba saja dia
menghubungiku, hal yang tak pernah ku harapkan sebelumnya. Dan..lagi-lagi,
entah mengapa paru-paruku terasa sangat sesak dan jantungku tiba-tiba berpacu
cepat. Jujur saja Tuhan, aku sangat tidak suka dengan sikapnya seperti ini, ia
seperti tidak memikirkan perasaanku. Bukannya aku ingin bersikap sombong atau
ingin memutuskan hubungan dengannya, hanya saja aku rasa waktunya tidak tepat
sekarang. Hal yang dilakukannya seperti meruntuhkan perjuangan kerasku selama
ini, mungkin engkau tau Tuhan apa maksudnya memperlakukan aku seperti ini. Ketika
aku sudah mulai berusaha menjauh darinya, mulai belajar mengikhlaskannya, dia
datang lagi dalam kehidupannku. Atau mungkin ini salah satu rencanaMu ??
Karena rindukah atau mungkin karena memang kau masih belum siap untuk benar-benar
kehilangan kabar dari ku ?? bukankah sekarang kau sudah punya penggantiku ??
seharusnya kau bisa fokus menjalani hidup barumu. Mungkin anggapan ku memang
benar, kamu memang masih memikirkanku, kamu memang benar-benar belum menghapus
aku dari sistem kerja otakmu. Dan…lagi-lagi aku terlalu percaya diri.
Aku berusaha menguatkan hatiku ketika harus membalas sms-sms darinya,
aku berusaha menanggapinya dengan santai demi kebaikanku sendiri. Jujur..ingin
sekali aku mengatakan betapa aku merindukannya, tapi aku sadar bahwa hal
tersebut hanya akan membuatku terluka pada akhirnya. Percakapanku dengannya
melalu pesan singkat terasa sangat garing, yaah..karena sepertinya aku dan dia
sama-sama menjaga alur percakapan kami. Percakapan
itupun berakhir tanpa kesan, tak ada artinya. Kalau aku boleh memilih, tentu
saja aku lebih memilih agar dia lebih baik tidak menghubungiku sama sekali,
karena jika dia menghubungiku dia hanya membuatku terluka untuk kesekian
kalinya.
Hanya Engkau Tuhan yang tau apa yang ada dipikirannya saat ini dan apa
yang dirasakannya saat ini. Aku harap dia tidak membohongi perasaannya sendiri,
karena aku tak mau jika dia merasakan bagaimana sakit yang pernah ku rasakan. Jika
engkau berkenan Tuhan, tolong sampaikan padanya agar dia untuk sementara tidak
perlu menghubungiku, agar sementara kami bisa menjadi orang yang tidak pernah
mengenal, agar sementara kami melupakan kenangan yang pernah kami ciptakan. Hanya
untuk sementara…..
Banjarbaru, hari kedua dibulan april 2013
Tidak ada komentar:
Posting Komentar