4.02.2013

Hanya Sementara, Tuhan...


Selamat malam Tuhan, aku harap Engkau mau meluangkan waktuMu sebentar disela-sela kesibukanMu untuk mendengar ceritaku hari ini. Untuk kesekian kalinya Tuhan aku menceritakan hal yang sama kepadaMu, semoga Engkau tidak bosan mendengarkann ceritaku yang sama berkali-kali. Iyaa..laki-laki itu (lagi) Tuhan yang akan menjadi topik ceritaku malam ini. Aku sendiri bingung kenapa aku tidak pernah bosan menceritakan dia kepadaMu, selalu saja ada hal-hal kecil tentang dia yang membuat aku selalu bercerita tentangnya.
Engkau pasti sudah tau bagaimana kerasnya perjuanganku untuk mengikhlskannya, bagaimana sulitnya aku menghilangkan bayang-bayang wajahnya dari sistem kera otakku, dan Engkau juga pasti tau bagaimana besarnya usahaku untuk dapat keluar dari rotasi kehidupannya. Hari ini tiba-tiba saja dia menghubungiku, hal yang tak pernah ku harapkan sebelumnya. Dan..lagi-lagi, entah mengapa paru-paruku terasa sangat sesak dan jantungku tiba-tiba berpacu cepat. Jujur saja Tuhan, aku sangat tidak suka dengan sikapnya seperti ini, ia seperti tidak memikirkan perasaanku. Bukannya aku ingin bersikap sombong atau ingin memutuskan hubungan dengannya, hanya saja aku rasa waktunya tidak tepat sekarang. Hal yang dilakukannya seperti meruntuhkan perjuangan kerasku selama ini, mungkin engkau tau Tuhan apa maksudnya memperlakukan aku seperti ini. Ketika aku sudah mulai berusaha menjauh darinya, mulai belajar mengikhlaskannya, dia datang lagi dalam kehidupannku. Atau mungkin ini salah satu rencanaMu ??
Karena rindukah atau mungkin karena memang kau masih belum siap untuk benar-benar kehilangan kabar dari ku ?? bukankah sekarang kau sudah punya penggantiku ?? seharusnya kau bisa fokus menjalani hidup barumu. Mungkin anggapan ku memang benar, kamu memang masih memikirkanku, kamu memang benar-benar belum menghapus aku dari sistem kerja otakmu. Dan…lagi-lagi aku terlalu percaya diri.
Aku berusaha menguatkan hatiku ketika harus membalas sms-sms darinya, aku berusaha menanggapinya dengan santai demi kebaikanku sendiri. Jujur..ingin sekali aku mengatakan betapa aku merindukannya, tapi aku sadar bahwa hal tersebut hanya akan membuatku terluka pada akhirnya. Percakapanku dengannya melalu pesan singkat terasa sangat garing, yaah..karena sepertinya aku dan dia sama-sama menjaga alur percakapan kami.  Percakapan itupun berakhir tanpa kesan, tak ada artinya. Kalau aku boleh memilih, tentu saja aku lebih memilih agar dia lebih baik tidak menghubungiku sama sekali, karena jika dia menghubungiku dia hanya membuatku terluka untuk kesekian kalinya.
Hanya Engkau Tuhan yang tau apa yang ada dipikirannya saat ini dan apa yang dirasakannya saat ini. Aku harap dia tidak membohongi perasaannya sendiri, karena aku tak mau jika dia merasakan bagaimana sakit yang pernah ku rasakan. Jika engkau berkenan Tuhan, tolong sampaikan padanya agar dia untuk sementara tidak perlu menghubungiku, agar sementara kami bisa menjadi orang yang tidak pernah mengenal, agar sementara kami melupakan kenangan yang pernah kami ciptakan. Hanya untuk sementara…..




Banjarbaru, hari kedua dibulan april 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar