8.15.2013

Yang Terbaik


“Ta, kamu masih ingat ga sama Tante Dian?”, tanya mamah.
“masih, kenapa mah?”
“gini loh, Tante Dian itu kemaren cerita kalau dia mau kamu sama anaknya aja”
“maksudnya?”
“kan Dimas itu sekarang udah kerja, Tante Dian itu ngerasa kamu cocok buat Dimas dan dia mau kamu jadi menantunya”.
“terus mamah bilang apa sama Tante Dian?”
“mamah bilang aja ‘Insya Allah kalau jodoh pasti ga kemana’. Lagian kalo menurut mamah kan bisa aja sambil jalan”.
“mah..Tita baru semeter 4 mamah udah ngomongin nikah aja”
“yaa..mamah Cuma pengen yang terbaik aja buat kamu”.
Well…di jaman yang udah serba canggih gini ternyata masih aja ada orangtua yang jodoh-jodohin anaknya dengan alasan untuk kebaikan anaknya sendiri. kaya Siti Nurbaya tapi di abad milenium. Sebenarnya itu untuk kebaikan anaknya atau orangtuanya? Karena kan secara ga langsung yang memilih pasangan hidup bukan anaknya tapi orangtua mereka, padahal yang ngejalanin kan bukan orangtua.
Sejak percakapan itu mamah selalu saja menceritakan tentang Dimas, mungkin niatnya supaya aku tertarik tapi sayang aku tak tertarik sedikitpun dengan cerita mamah.
“emangnya Dimas itu mau gitu sama aku?”
“belum pasti sih, tapi kayanya Dimas nurut aja tuh sama Tante Dian. Daripada kamu pacaran sana sini ga jelas gitu”
“ga jelas apanya??”
“lah itu yang kemaren ga direstuin sama keluarganya, yang sekarang suka banget bikin kamu nangis. Kaya drama aja yang dikit-dikit mewek”
“tapi kan ini hidup Tita bukan hidupnya mamah”
“mamah selama ini selalu ngebiarin kamu ngambil keputusan sendiri, mamah kasih kebebasan kamu mau sekolah dimana, mamah juga ga ngelarang kamu buat ngambil jurusan yang kamu suka, dan mamah ga pernah ngelarang kamu buat ngejar cita-cita kamu. Sekali ini aja mamah mau kamu ngikutin keputusan mamah”
Yang mamah bilang emang bener, tapi ini hidup aku. Aku berhak memilih yang terbaik buat hidup aku. Apa semua orangtua seperti itu? Mereka selalu mengganggap merekalah yang tau apa yang terbaik untuk anaknya. Kadang aku merasa mereka seperti Tuhan, mereka merasa tau apa yang terbaik untuk oranglain padahal yang tau apa yang terbaik adalah orang yang menjalaninya sendiri.
“nanti sore keluarga Dimas ke sini, mama harap kamu bisa jaga sikap. Oh..iya, mamah mau kamu sudahi saja hubungan pacarmu itu”
“loh…ko jadi gitu sih? Lagian aku juga belum kenal baik sama dimas, aku ga tau orangnya seperti apa”
“kalian juga ga bakalan langsung nikah, tapi tunangan dulu sampai kamu selesai kuliah. Cinta bisa datang dengan sendirinya kalau kamu udah terbiasa”
“mah..nikah itu bukan masalah gampang. Nikah itu ibadah”
“ngebahagiaan orangtua juga ibadah kan? Mamah Cuma pengen ngeliat kamu bahagia sebelum, kamu tau kan penyakit mamah udah menyebar dan harapan hidup lebih lama itu kecil. Mamah janji, ini permintaan terakhir mamah sama kamu”
Aku tak bisa berbuat banyak, aku sangat menyayangi mamah. Aku pun mengikuti kemauan mamah meskipun aku terluka, ini demi mamah. Kuputuskan hubungan dengan kekasihku dan kuikuti acara perjodohan itu hingga kami bertunangan. Sebenarnya bukan orangtua yang tau apa yang terbaik untuk anaknya, tidak juga anak itu sendiri yang tau apa yang terbaik untuk dirinya tapi Tuhanlah yang tau apa yang terbaik untuk umatnya. apa yang aku ingkan mungkin bertentangan dengan apa yang harus ku jalani sekarang, tapi percayalah Tuhan tidak akan memberikan apa yang kamu inginkan tapi Tuhan memberikan apa yang kamu butuhkan. yang aku inginkan belum tentu yang terbaik untukku bukan?
Ketika mamah merasa Dimas yang terbaik untukku, mungkin itu juga yang Tuhan berikan yang terbaik untuk hidupku. Tuhan yang menentukan jalan kehidupan seseorang bak sutradara. God is a Director and I’m an Actor.

8.13.2013

Cerita Sembilan Minggu

Sudah sekitar sembilan minggu setelah kita “benar-benar” memutuskan untuk tidak lagi bersama. Apa kabar, Cinta? “Cinta”….panggilan akrab kita berdua kepada satu sama lain. Sudah sembilan minggu pula aku tidak lagi mendengar suaramu memanggilku dengan sebutan itu. Yaa..kalau boleh aku jujur aku sangat merindukannya. Merindukan kenangan itu dan tentu saja merindukan…kita.

Cinta..selama sembilan minggu ini aku harap kabarmu selalu baik-baik saja. Apa saja yang telak kau lakukan dengan gadis itu? Gadis yang sangat kau jaga perasaannya melebihi aku yang sangat menyayangimu. Gadis yang juga secara tidak langsung sudah menyakiti perasaanku.

Aku senang bila kau sudah menemukan kebahagianmu sendiri bersama orang lain. Mungkin lebih baik begitu karena pada dasarnya kita memang tidak bisa bersama, kecuali atas izin Tuhan. Cinta kita memiliki penghalang yang cukup besar. Perbedaan keyakinan diantara kita yang kita kira bisa disatukan pada kenyataannya tidak bisa disatukan. Aku mengaku kalah pada keadaan, bukannya aku menyerah hanya saja aku belajar menerima keadaan kita yang berbeda.

Selama sembilan minggu apa saja kegiatanmu, sayang ? oh…iya, bagaimana ujianmu kemarin? Semoga saja hasilnya memuaskan. Aku dengar-dengar sekarang kamu sedang liburan yaa, wah…kalau sudah begini kamu pasti akan sibuk dengan kegiatan Gereja. Tapi aku juga lihat dari jejaring sosial kamu sedang sakit. Aku harap kamu hanya sakit biasa dan bisa secepatnya sembuh.

Kalau aku, kamu mungkin juga penasaran apa yang sudah aku lakukan selama sembilan minggu terakhir. Dihari di mana kita memutuskan untuk menyudahi segalanya aku merasakan sakit hati yang luar biasa, hujan selalu saja membasahi pipiku. Namun, disaat itu juga aku disadarkan oleh sahabatku untuk bisa berpikir tentang kamu. Kamu mau tau cinta apa yang mereka katakan? Sedikit pedas sih kata-katanya tapi itu cukup buat menyadarkanku. Mereka bilang kalau kamu itu ga layak buat aku, kamu itu juga ga layak buat diperjuangin dan mereka juga bilang kalau aku itu layak dapetin yang lebih baik dari kamu, meskipun aku selalu merasa kamu yang terbaik. Tapi berhubung segala hal yang sudah kamu lakuin ke aku, aku jadi berubah pikiran, sayang.

Aku berjuang keras untuk tak lagi memperdulikanmu, aku menahan keinginan kuatku untuk membuka profil facebook mu, dan aku juga menahan keinginan kuat untuk mencari tahu segala hal yang berhubungan denganmu. Dan aku rasa usahaku membuahkan hasil, sayang. Setiap aku melihatmu dengan gadis itu di dunia maya aku tak lagi merasakan sakit seperti dulu. Apakah itu juga pertanda bahwa aku sudah melupakan perasaan sayangku untuk kamu?

Tapi tetap saja aku tidak bisa melupakan kenangan tentang kita. Sepertinya itu memang sudah menjadi tugas kenangan, yang akan kembali setiap saat dan setiap waktu ke dalam pikiran seseorang. Aku selalu bertanya apakah ada cara untuk menghilangkan kenangan? Apakah dengan aku amnesia kenangan itu akan hilang? Entahlah…sepertinya itu tidak mungkin juga terjadi.

Berbicara tentang kenangan, apa kamu masih ingat dengan pernyataan yang sama-sama kita buat? Pernyataan yang kalimatnya sama padahal kita tak pernah berjanji untuk membuatnya. “Bagaimanapun keadaanmu, bagaimanapun hubunganmudengan perempuan lain, bagaimanapun perasaannyamu kepadaku, dan bagaimanapun keadaanku..aku akan tetap sayang sama kamu, Cinta”.

Kalimat tersebut memang terlihat egois bagi pasangan kita kelak. Tapi aku memang tidak bisa menghapus kamu dan kenangan kita seratus persen dari rotasi kehidupanku. Seorang sahabat pernah berkata kepadaku, kalau kita tidak perlu membuang perasaan atau membeci seseorang untuk melupakannya karena cinta mempunyai tempat tersendiri dan arti sendiri dalam kehidupan tiap orang yang perlu kamu lakukan hanyalah tak lagi memperdulikan perasaan itu.

Cinta, apa kamu juga masih ingat dengan kata-kata yang kamu ucapkan ketika aku menangis karena sudah tidak kuat melihatmu bersama gadis itu?? Kamu bilang, “aku ga akan pergi kemana-mana, aku akan selalu ada dihati kamu karena bagi aku Cinta Itu Kamu”. Jujur sayang, kadang-kadang potongan kenangan itu kembali menyapaku dan memunculkan rasa rindu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama, Cinta??
Aku bingung sayang kenapa begitu sulit melupakanmu, aku bingung dengan perasannku sekarang. Meskipun kamu sudah sering kali membuatku sakit hati dan menangis tapi tetap saja aku tidak bisa membencimu. Apakah cinta itu sedemikian bodohnya? Kadang aku menggangap kalau “cinta” dan “bodoh” itu beda tipis, bahkansangat tipis.

Besok tepat tanggal 14 Agustus, dan itu adalah hari yang spesial bagi kamu karena besok kamu akan bertambah usia. Dihari yang spesial itu aku harap kamu bisa cepat sembuh dari sakitmu, aku juga selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Tulisan ini aku berikan khusus kepadamu. Bodoh memang aku berkata begitu karena pada kenyataanya aku ga akan memberikan tulisan ini kepadamu dan kamu ga akan pernah bisa membacanya.

Tuhan…apakah memang ini menurutmu jalan yang terbaik untuk kami? Apakah tidak bisa Engkau membantu kami? Menyatukan dua orang yang memiliki perasaan yang sama untuk saling memiliki seperti yang ada didongeng-dongeng. Tapi aku pasti tau kalau Engkaulah yang tau apa yang terbaik untuk kami berdua.
Tuhan…Engkau pasti tau bagaimana perasaanku sekarang, Engkau pasti tau kalau aku masih menyayanginya, masih belum bisa melupakannya. Tapi aku tidak ingin terluka lagi olehnya, Tuhan. Aku mohon Tuhan, bantu aku melupakanya, bantu aku untuk mengikhlaskannya pegi, dan bantu aku Tuhan untuk berhenti mencarinya. Bantu dia juga Tuhan untuk bisa melupakanku.

Beberapa harapan ku untuk kita sayang, semoga harapan itu bisa dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Tenanglah sayang, sabarlah..semua akan indah pada waktunya. Semoga kamu masih ingat dengan kata-kata penenang ku kalau kita memang jodoh kita pasti akan bersama lagi, karena pada hakikatnya yang disatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia.

Dan..selama sembilan minggu terakhir aku memang sudah tak merasakan sakit seperti dulu, aku tak pernah lagi menangisimu, dan aku mulai tak memperdulikanmu. Apakah ini merupakan kemajuan untukku? Semoga saja hal ini pertanda baik untukku, pertanda bahwa Tuhan mendengar doaku. Semoga ….



Hanya Cinta Sesaat

Jret..jret..jret..getar handphone ku yang terus saja tak sabar meminta untuk diangkat. Kulihat dilayar handphone ku terlihat nama “Desty”, Sahabatku. Aku sedikit tersenyum dan langsung mengangkat telpon, “Haloo…kena..”tak sempat aku menyelesaikan kata-kataku, Desty sudah terlebih dahulu mengoceh sambil mengomel.
“Kok lama ngangkat telponnya? Bete tau nungguin.  Gimana sama rencana kita? Jadi?”
Aku tertawa kecil mendengar suaranya yang nyaring dan cepat, semakin membuat aku rindu padanya. Yaa kami memang sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing dan terpisah oleh jarak puluhan kilometer.
“Yang mana dulu nih yang dijawab?”
“Ah…lama deh, yang mana aja boleh.”
“Aku sama Maya sih udah setuju aja.”
“Terus Riswan sama Fery jadi ikutan?”
“Jadi katanya, tiket dipesan duluan kan?”
“Iya..iya…tenang aja yang penting orangnya dulu dipastiin. Besok filmnya mulai jam 7, bisa kan?”
“Bisa aja, nanti aku kabarin yang lain. Gak sabar ketemu kalian besok.”
“Hahaha…aku sm Listy juga, kabarin ya kalau mau berangkat…”
“Pasti lah..”
“Udah dulu yaa, mau ngampus dulu nih udah telat. Byee..”, tut..tut..Desty langsung memutuskan telponnya.
***
Aku melihat ke arah jam tangan ku terus menerus, sudah hampir jam 6 dan Fery belum juga datang. Jarak bioskop dan rumahku memang jauh, perlu waktu satu jam untuk bisa ke sana.
“Haduh..Fery kemana sih, lama banget.”
“Sabar dong Wan, bentar lagi mungkin.”
“Kita bisa-bisa ketinggalan filmnya, Put.”
“Terus mau gimana lagi, masa kita ninggalin dia?”
“Udah..udah..Sabar dulu deh Wan, telponin aja orangnya lagi”, Maya menimpal.
“Dari tadi juga udah ditelponin, tapi ga diangkat.”
Sudah lewat jam 6, sementara Desty sudah sibuk menanyakan kami ada di mana. Dari kejauhan terlihat Fery datang dengan tergesa-gesa.
“Sory..sory, aku ada ujian mendadak tadi.”
“Udah..jalan aja, ntar kita ketinggalan filmnya lagi.” Segera aku mengirimkan pesan singkat untuk Desty yang dari tadi terus menelpon.”
***
Jam setengah 8 kami baru sampai. Tepat setengah jam setelah film dimulai kami datang. Kami bergegas menuju studio, dan segera masuk ke dalam. Desty dan Listy sudah menunggu kami di dalam.
“Kok lama?” Desty langsung angkat bicara.
“Jalanan macet”, Riswan langsung menjawab.
Desty langsung mencibir dan mengalihkan perhatiannya kembali ke film. Tanpa sengaja Fery duduk bersebelahan dengan Listy dan tentu saja hal tersebut membuat Listy sangat senang yaa…Listy memang menyukai Fery sejak SMA. Satu jam kemudian film selesai. Karena sudah merasa kemalaman kami pun memutuskan untuk segera pulang. Dijalan pulang, aku yang satu motor dengan Fery saling bercerita untuk membunuh rasa bosan dan ngantuk dalam perjalanan.
Terbesit rasa tidak nyamanku saat harus satu motor dengan orang yang sudha lama disukai oleh Listy. Tapi aku tidak mungkin juga berpergian sejauh itu dan semalam itu menggunakan motor sendiri yaa meskipun Listy selalu bilang ‘gak apa-apa’.
Kami bercerita banyak hal selama perjalanan, Fery menceritakan tentang kehidupannya dan begitu juga dengan aku. Tanpa sadar aku sudah menceritakan masalahku dengan kekasihku dengan Fery. Ia memang pendengar yang baik dan ia menanggapi ceritaku dengan yang baik pula. Fery memang teman yang baik dan juga pendengar yang baik.
Namun, dari situ ceritaku dimulai. Sejak malam itu Fery selalu menghubungiku, ia selalu mengirimkan pesan singkat untukku. Mulai dari menanyakan sesuatu hingga menanyakan kabarku. Hubunganku dengan Fery semakin membaik dan sebaliknya hubunganku dengan kekasihku semakin memburuk. Kami selalu saja bertengkar karena sesuatu yang tak perlu, aku mulai jenuh dengannya. Aku mulai tidak mempedulikannya dan mulai meperdulikan Fery.
Aku lebih sering bertemu dengannya, lebih sering menghubunginya. Sesaat aku seperti melupakan perasaan Listy padanya. Aku berubah menjadi perempuan yang jahat yang egois yang hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Aku tak bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku pada Fery, suka? Sayang? Cinta? Atau tak lebih dari sekedar teman?
Sampai suatu ketika aku memutuskan hubunganku dengan kekasihku, entah murni karena alasan permasalahan kami berdua atau karena sudah ada Fery disampingku. Sebulan setelah kami putus hubunganku dengan Fery juga semakin membaik tapi entah kenapa aku merasa ada yang mengganjal dalam hatiku. Aku bingung dengan perasaanku sendiri, aku sulit mengartikan perasaan seperti apa itu. Lebih buruknya lagi aku tidak menceritakan apa yang terjadi kepada Listy, sahabatku.
Aku memutuskan untuk menceritakan masalahku kepada sahabatku, Akbar. Akbar memberiku nasehat untuk tidak terburu-buru mengartikan perasaan itu. Akbar benar, lebih baik jangan terburu-buru daripada nantinya hanya akan menyakiti perasaan banyak pihak. Tapi aku memang sudah jatuh terlalu dalam dan sudah tidak mungkin mengembalikannya seperti semula. Beberapa waktu setelah itu, Fery mengutarakan perasaanya kepadaku. Aku bingung, logika dan perasaanku saling beradu dengan argumennya masing-masing.
Disatu sisi aku memikirkan perasaan Listy tapi disisi lain aku berpikir kalau Fery lah yang bisa membantuku untuk ‘move on’. Yaah aku memang perempuan egois, aku mengiyakan ketika Fery memintaku menjadi kekasihnya. Setelah kami resmi berpacaran, aku tak merasakan sesuatu yang spesial, tak ada perasaan bahagia yang membludak ketika itu justru sebaliknya aku merasa semakin bersalah.
Menjalani hari-hari dengan Fery memang menyenangkan namun entah kenapa rasa senang itu seperti tertutupi dengan rasa bersalah yang semakin besar. Aku merahasiakan semuanya dari Listy, aku sudah mengkhianati persahabatan kami, dan aku sudah menyakiti perasaannya. Setiap kali aku bertemu Listy aku selalu saja bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, hatiku selalu aja menyuruhku untuk mengatakan yang sebenarnya tapi entah mengapa lidah ku selalu saja kelu, bibirku seperti terkunci rapat.
Desty dan Maya selalu mendorongku untuk mengatakan yang sebenarnya, mereka hanya takut persahabatan kami menjadi rusak gara-gara hal tersebut. Aku pun memutuskan untuk mengatakannya dengan Listy. Aku mengajak Listy untuk bertemu dan mengobrol berdua, hanya kami berdua tanpa Desty dan Maya. Memang tak semudah yang ku bayangkan, ada kecanggungan yang tercipta antara kami.
“jadi…gimana?”, Listy memulai percakapan.
“mau dengar dari awal?”, aku balik bertanya.
“tentu saja”.
Aku menceritakan kejadian itu dari awal hingga akhir. “maaf Lis, aku nyesal udah nyakitin perasaan kamu. Aku memang ngga tegas jadi orang, coba saja kalau dulu…”
“sudah..sudah..aku juga udah ngga mikirin itu lagi ko, meskipun kemarin 2 hari loh”
“dua hari? Dua hari apa? Jangan bilang kalau kamu nangis dua hari gara-gara itu”.
“hheee..tapi abis nangis rasanya lega banget”.
Mendengar cerita Listy aku semakin merasa bersalah dan menyesal. Aku nyesal karena udah tega menyakiti perasaan sahabatku sendiri. Kalau ada orang yang bilang “berpikirlah dengan menggunakan perasaan” kadang pernyataan tersebut tak sepenuhnya benar. Ada banyak hal yang kadang tak bisa diselesaikan dengan menggunakan perasaan, perlu ada campur tangan logika juga di dalamnya. Yaa..hidup ini seimbang, seimbang antara logika dan juga perasaan.
***
Pikiranku tak juga kembali tenang, masih saja terasa gelisah. Sampai akhirnya aku berada dititik kejenuhan pada keadaan yang seperti ini.”aku cuma ingin hidupku tenang”. Aku pun harus membuat keputusan besar yang tentu saja akan menyakitkan perasaan orang lain. Meskipun Listy berkata dia tidak lagi mempermasalahkannya tapi aku yakin luka dihatinya tidak semudah itu kering.
Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Fery, meskipun aku tau dia akan terluka. Aku berharap keputusanku ini tidak membuat siapapun terluka, tapi kenyataannya akan ada orang lain yang terluka. Dan aku memilih untuk melukai persaan Fery dibandingkan harus melukai perasaan sahabatku lebih dalam lagi.
Setelah kejadian itu aku bersyukur hubunganku dengan Listy membaik, namun tidak dengan Fery. Hubungan ku memburuk, sejak aku memutuskan untuk menyudahi hubungan kami sejak itu juga komunikasi kami terputus hingga sekarang.
Aku tidak pernah menyesali sedikitpun hubungan yang ku jalani dengan Fery, yaa arena memang dia orang yang baik. Yang sangat ku sesali sampai sekarang adalah kenapa aku bisa setega itu menyakiti perasaan sahabatku sendiri.