9.11.2013

Cinta untuk Sahabat


“cha..icha..kita satu kelas nih”
“waah..seriusan?”
“iya laah, kapan aku pernah bohong sama kamu?”
“hmm…bakalan seru dong jadinya”
“iyaalah, kan nanti kita bakalan lebih sering sama-sama”, ucap Dimas sambil mengacak-acak rambutku.
“ih..Dimas, apaan sih”
Aku paling tidak suka bila ada yang merusak rambutku, tapi entah kenapa tidak bila dengan Dimas. Aku bahkan selalu merindukan ia melakukan hal itu kepadaku. Dan kali ini, Tuhan memberiku kesempatan untuk bisa lebih sering melihatnya.
Keakraban kami dimulai karena lagu. Lagu yang aku suka dan ternyata juga disukainya. Aliran musik yang aku suka juga disukainya. Berawal dari hal kecil yang tak pernah di duga, hingga menghasilkan perasaan seperti ini. Perasaan ini ‘mungkin’ oleh sebagian orang disebut ‘cinta’.
“halo, kenapa Dim ?”
“eh..kamu udah ngerjain PR dari bu Rani belum?”
“udah, kenapa?”
“aku belum nih, ga ngerti soalnya. Ajarin aku dong, aku ke rumah kamu sekarang ya”
“i..iya, datang aja. Aku tunggu”
Setelah mematikan handphone aku bergegas membuka lemari pakaian dan sibuk mencari baju ganti. Rasanya tidak ada yang pas yang harus digunakan.
“loh..kok aku jadi gini, ngapain sih ribet sendiri kaya gini. Cuma mau ketemu Dimas kan?”
Akhirnya aku membatalkan mengganti baju dan berdandan seadanya. Tak lama kemudian Dimas datang, seperti biasa dengan senyumnya yang ‘manis’.
“masuk Dim”
“aku liat punya kamu aja ya cha, tiba-tiba malas belajar nih”
“yee..katanya tadi mau belajar”
“ayolah cha, pliss. Demi aku ini”
“iya deh iya, nih cepetan kerjain”
Disaat-saat kaya ini bagi aku adalah ‘quality time’ sama Dimas. Dan aku selalu saja berharap suapaya waktu bisa berenti agar aku bsa lebih lama sama Dimas. Tapi sayang hal itu ga mungkin terjadi, karena pada kenyataannya setiap kali aku sama Dimas waktu selalu aja lebih cepat dari biasanya, bahkan sangat cepat.
“cha, aku lagi ada masalah keluarga nih. Galau banget akhir-akhir ini”
“jangan diseriusin loh galaunya, kita bentar lagi kan mau UTS”
“terus gimana dong, pikiran aku jadi ga tenang”
“sholat tahajud aja, buat nenangin pikiran”
“susah kebangunnya , cha”
“ya udah ntar aku bangunin deh sampai kamu bangun”
“iya deh kalo gitu. Makasih ya, kamu emang temen paling baik deh sedunia”
“mulai deh mulai lebaynya. Cepet kerjain aja tuh”
“siaap bu, laksanakan”
Tengah malam, seperti janjiku sebelumnya kepada dimas aku membangunkannya untuk sholat tahajud. Tak ku hiraukan rasa kantukku, aku rela untuk bangun tengah malam membangunkannya dan ikut sholat tahajud bersamanya. Mendengar ‘suara’ bangun tidurnya yang terdengar begitu lucu. Tergores sebuah senyuman diwajahku ditengah malam itu.
Aku semakin yakin, sepertinya aku memang benar-benar jatuh cinta kepada Dimas. Aku tak tau perasaan ini dimulai sejak kapan, aku bahkan tak tahu alasan apa yang membuat aku jatuh cinta kepadanya. Yang aku tahu hanyalah aku mencintainya.
“pagi ichaku”, sapa Dimas dengan tersenyum lebar
“ichaku? Sejak kapan aku jadi punyanya kamu?”.
“hehe…aku lagi bahagia nih”
“ciyee..traktiran dong, bahagia kenapa?”
“hmm..makan mulu yang dipikirin. Aku lagi suka sama cewe”
“siapa?”
“kamu tau ko orangnya, dia deket soalnya sama aku dan aku rencananya mau nembak dia”
“ih..siapa sih?”
Dimas tak menjawab pertanyaanku, dia tersenyum sambil menatapku dan lalu meninggalkanku dengan segudang tanda tanya. Entah ini Cuma perasaanku saja atau memang demikian, tatapan Dimas tadi membuat aku GR. “apa jangan-jangan cewe itu aku ya?”
Kejadian pagi itu selalu saja teringat olehku, mungkin cewe yang dimaksud memang aku. Lalu apa yang harus aku lakukan, apa aku harus bilang sama Dimas. Tiba-tiba saja Dimas menelponku…
“cha, dimana? Ketemuan yuk ada yang pengen aku kasih tau”
“iyaa, aku juga mau ngomong sesuatu sama kamu. Dimana?”
“ditempat biasa yaa, aku tunggu”
“okee”
Kata-kata Dimas secara tidak langsung memunculkan argumen-argumen dikepalaku. Apa Dimas mau bilang kalau…ah kita liat aja nanti. Mungkin memang ini saatnya aku bilang sama Dimas.
Aku tiba di kafe tempat biasa kami bertemu dan melihat Dimas sudah ada disana menungguku. “sory ya telat”.
“gak apa-apa ko”
“mm..kamu mau bicara apa?”, aku memberanikan bertanya
“eh..tapi tadi kamu juga mau ngomong kan, kamu aja duluan”
“ngga ah, kamu aja kan yang duluan bilang kamu”
“ya udah deh kalo gitu. Cha, kamu tau kan cewe yang aku bilang kemarin yang aku suka”
“iyaa…terus?”
“kamu mau tau dia siapa?”
“ya iyalah, aku kan penasaran”
“cewe itu Dinda dan aku udah jadian sama Dinda tadi sore”
Ternyata Dinda dan bukan Icha perempuan yang dimaksud Dimas. Bukan aku.
“hey..ko  diam aja, kasih selamat dong. Ga senang ya temennya bahagia?”
“eh..maaf, aku Cuma ga nyangka aja. Selamat yaa aku bahagia ko kalo kamu bahagia”
“terus kamu mau bilang apa, cha?”
“ngga jadi, aku lupa. Udah lupain aja ga penting ko”
“ooh..gitu, terus aku besok mau ngedate loh sama Dinda…..
Dimas terus bercerita tentang Dinda dengan penuh semangat sampai-sampai dia tak menyadari bahwa ada yang terluka mendengar ceritanya bahagianya. Ada yang menyembunyikan tangisnya dibalik senyumnya yang manis agar tidak merusak kebahagian baru orang yang dicintainya. Ada yang tetap setia mendengarkan cerita tentang kebahagiannya padahal perasaannya begitu terluka. Ada yang begitu banyak berkorban agar orang yang dicintainya bahagia.
Aku memilih untuk menyimpan perasaanku sendiri agar tidak merusak kebahagiaanya. Dinda mungkin yang terbaik untuk Dimas, mereka serasi. Bukankah mencintai itu tak perlu harus memiliki, ya kan??
“cha, kita sekarang jadi jarang sama-sama yah?”
“kamu tuh yang sibuk punya pacar baru jadinya lupa deh sama aku”
“ih…kamu marah ya?”
“hahhaa..becanda kale, aku maklum ko kan pacar bayuu”
“syukur deh. Kok aku ngerasa kalo Dinda tuh agak cuek yah sama aku?”
“cuek gimana?”
“yaa..dia ga pernah bilang kangen gitu sama aku”
“yaa..wajarlah cewe kan gitu, gengsinya selangit. Yang dimulut pasti beda sama hatinya”.
“ooh…gitu yaaah, ribet yah jadi cewe”
Yaa…Dimas selalu bercerita tentang hubungannya dengan Dinda kepadaku, dan aku dengan bodohnya selalu mendengarkan seolah-olah tak terjadi apapun. Ingin sekali rasanya aku berteriak kepadanya dan mengatakan kalau aku cemburu mendengarnya. Tapi hal itu tak mungkin kulakukan, mungkin orang lain akan menganggapku bodoh bila tau perasaanku yang sebenarnya, mungkin diam tak selalu salah, diam adalah yang terbaik sekarang agar aku tak sampai melukai perasaan orang lain. Aku hanya ingin dia bahagia meskipun bukan denganku.
Aku pernah menganggap cinta itu bodoh. Kenapa kita harus merelakan banyak hal untuk orang lain, mengapa kita harus menahan air mata untuk orang lain. Dan sekarang aku merasakannya sendiri dan aku menemukan jawaban atas pertanyaan tersebut.
Ketika memikirkan seseorang yang mungkin tak memikirkan kita. Ketika menangisi seseorang yang mungkin tak pernah menangisi kita. Ketika menyebut namanya dalam doa padahal ia tak pernah menyebutmu dalam doanya. menurutku cinta adalah bukan seberapa besar kamu menerima tapi seberapa besar kamu memberi, memberi, dan memberi. Mungkin itu yang disebut cinta, rela melakukan banyak hal untuk orang lain. Kalau ada yang bilang “cinta tak perlu pengorbanan, ketika kau mulai merasa berkorban saat itu juga cintamu akan hilang”, aku setuju dengan kalimat tersebut. Menurutku cinta memang tak memerlukan pengorbanan karena cinta adalah pengorbanan itu sendiri. Ketika kamu mulai mencintai seseorang maka saat itu juga tanpa disadari kamu mulai mengorbankan sedikit demi sedikit sesuatu yang kamu miliki. Dan cinta itu akan luntur ketika kamu mulai mengungkit pengorbanan tersebut.


Banjarbaru, awal September 2013

Tidak ada komentar:

Posting Komentar