8.13.2013

Cerita Sembilan Minggu

Sudah sekitar sembilan minggu setelah kita “benar-benar” memutuskan untuk tidak lagi bersama. Apa kabar, Cinta? “Cinta”….panggilan akrab kita berdua kepada satu sama lain. Sudah sembilan minggu pula aku tidak lagi mendengar suaramu memanggilku dengan sebutan itu. Yaa..kalau boleh aku jujur aku sangat merindukannya. Merindukan kenangan itu dan tentu saja merindukan…kita.

Cinta..selama sembilan minggu ini aku harap kabarmu selalu baik-baik saja. Apa saja yang telak kau lakukan dengan gadis itu? Gadis yang sangat kau jaga perasaannya melebihi aku yang sangat menyayangimu. Gadis yang juga secara tidak langsung sudah menyakiti perasaanku.

Aku senang bila kau sudah menemukan kebahagianmu sendiri bersama orang lain. Mungkin lebih baik begitu karena pada dasarnya kita memang tidak bisa bersama, kecuali atas izin Tuhan. Cinta kita memiliki penghalang yang cukup besar. Perbedaan keyakinan diantara kita yang kita kira bisa disatukan pada kenyataannya tidak bisa disatukan. Aku mengaku kalah pada keadaan, bukannya aku menyerah hanya saja aku belajar menerima keadaan kita yang berbeda.

Selama sembilan minggu apa saja kegiatanmu, sayang ? oh…iya, bagaimana ujianmu kemarin? Semoga saja hasilnya memuaskan. Aku dengar-dengar sekarang kamu sedang liburan yaa, wah…kalau sudah begini kamu pasti akan sibuk dengan kegiatan Gereja. Tapi aku juga lihat dari jejaring sosial kamu sedang sakit. Aku harap kamu hanya sakit biasa dan bisa secepatnya sembuh.

Kalau aku, kamu mungkin juga penasaran apa yang sudah aku lakukan selama sembilan minggu terakhir. Dihari di mana kita memutuskan untuk menyudahi segalanya aku merasakan sakit hati yang luar biasa, hujan selalu saja membasahi pipiku. Namun, disaat itu juga aku disadarkan oleh sahabatku untuk bisa berpikir tentang kamu. Kamu mau tau cinta apa yang mereka katakan? Sedikit pedas sih kata-katanya tapi itu cukup buat menyadarkanku. Mereka bilang kalau kamu itu ga layak buat aku, kamu itu juga ga layak buat diperjuangin dan mereka juga bilang kalau aku itu layak dapetin yang lebih baik dari kamu, meskipun aku selalu merasa kamu yang terbaik. Tapi berhubung segala hal yang sudah kamu lakuin ke aku, aku jadi berubah pikiran, sayang.

Aku berjuang keras untuk tak lagi memperdulikanmu, aku menahan keinginan kuatku untuk membuka profil facebook mu, dan aku juga menahan keinginan kuat untuk mencari tahu segala hal yang berhubungan denganmu. Dan aku rasa usahaku membuahkan hasil, sayang. Setiap aku melihatmu dengan gadis itu di dunia maya aku tak lagi merasakan sakit seperti dulu. Apakah itu juga pertanda bahwa aku sudah melupakan perasaan sayangku untuk kamu?

Tapi tetap saja aku tidak bisa melupakan kenangan tentang kita. Sepertinya itu memang sudah menjadi tugas kenangan, yang akan kembali setiap saat dan setiap waktu ke dalam pikiran seseorang. Aku selalu bertanya apakah ada cara untuk menghilangkan kenangan? Apakah dengan aku amnesia kenangan itu akan hilang? Entahlah…sepertinya itu tidak mungkin juga terjadi.

Berbicara tentang kenangan, apa kamu masih ingat dengan pernyataan yang sama-sama kita buat? Pernyataan yang kalimatnya sama padahal kita tak pernah berjanji untuk membuatnya. “Bagaimanapun keadaanmu, bagaimanapun hubunganmudengan perempuan lain, bagaimanapun perasaannyamu kepadaku, dan bagaimanapun keadaanku..aku akan tetap sayang sama kamu, Cinta”.

Kalimat tersebut memang terlihat egois bagi pasangan kita kelak. Tapi aku memang tidak bisa menghapus kamu dan kenangan kita seratus persen dari rotasi kehidupanku. Seorang sahabat pernah berkata kepadaku, kalau kita tidak perlu membuang perasaan atau membeci seseorang untuk melupakannya karena cinta mempunyai tempat tersendiri dan arti sendiri dalam kehidupan tiap orang yang perlu kamu lakukan hanyalah tak lagi memperdulikan perasaan itu.

Cinta, apa kamu juga masih ingat dengan kata-kata yang kamu ucapkan ketika aku menangis karena sudah tidak kuat melihatmu bersama gadis itu?? Kamu bilang, “aku ga akan pergi kemana-mana, aku akan selalu ada dihati kamu karena bagi aku Cinta Itu Kamu”. Jujur sayang, kadang-kadang potongan kenangan itu kembali menyapaku dan memunculkan rasa rindu. Apa kamu juga merasakan hal yang sama, Cinta??
Aku bingung sayang kenapa begitu sulit melupakanmu, aku bingung dengan perasannku sekarang. Meskipun kamu sudah sering kali membuatku sakit hati dan menangis tapi tetap saja aku tidak bisa membencimu. Apakah cinta itu sedemikian bodohnya? Kadang aku menggangap kalau “cinta” dan “bodoh” itu beda tipis, bahkansangat tipis.

Besok tepat tanggal 14 Agustus, dan itu adalah hari yang spesial bagi kamu karena besok kamu akan bertambah usia. Dihari yang spesial itu aku harap kamu bisa cepat sembuh dari sakitmu, aku juga selalu berdoa untuk kebahagiaanmu dan aku selalu mengharapkan yang terbaik untukmu. Tulisan ini aku berikan khusus kepadamu. Bodoh memang aku berkata begitu karena pada kenyataanya aku ga akan memberikan tulisan ini kepadamu dan kamu ga akan pernah bisa membacanya.

Tuhan…apakah memang ini menurutmu jalan yang terbaik untuk kami? Apakah tidak bisa Engkau membantu kami? Menyatukan dua orang yang memiliki perasaan yang sama untuk saling memiliki seperti yang ada didongeng-dongeng. Tapi aku pasti tau kalau Engkaulah yang tau apa yang terbaik untuk kami berdua.
Tuhan…Engkau pasti tau bagaimana perasaanku sekarang, Engkau pasti tau kalau aku masih menyayanginya, masih belum bisa melupakannya. Tapi aku tidak ingin terluka lagi olehnya, Tuhan. Aku mohon Tuhan, bantu aku melupakanya, bantu aku untuk mengikhlaskannya pegi, dan bantu aku Tuhan untuk berhenti mencarinya. Bantu dia juga Tuhan untuk bisa melupakanku.

Beberapa harapan ku untuk kita sayang, semoga harapan itu bisa dikabulkan oleh Yang Maha Kuasa. Tenanglah sayang, sabarlah..semua akan indah pada waktunya. Semoga kamu masih ingat dengan kata-kata penenang ku kalau kita memang jodoh kita pasti akan bersama lagi, karena pada hakikatnya yang disatukan oleh Tuhan tidak dapat dipisahkan oleh manusia.

Dan..selama sembilan minggu terakhir aku memang sudah tak merasakan sakit seperti dulu, aku tak pernah lagi menangisimu, dan aku mulai tak memperdulikanmu. Apakah ini merupakan kemajuan untukku? Semoga saja hal ini pertanda baik untukku, pertanda bahwa Tuhan mendengar doaku. Semoga ….



Tidak ada komentar:

Posting Komentar