Jret..jret..jret..getar handphone ku yang terus saja tak sabar meminta
untuk diangkat. Kulihat dilayar handphone ku terlihat nama “Desty”, Sahabatku.
Aku sedikit tersenyum dan langsung mengangkat telpon, “Haloo…kena..”tak sempat
aku menyelesaikan kata-kataku, Desty sudah terlebih dahulu mengoceh sambil
mengomel.
“Kok lama ngangkat telponnya? Bete tau nungguin. Gimana sama rencana kita? Jadi?”
Aku tertawa kecil mendengar suaranya yang nyaring dan cepat, semakin
membuat aku rindu padanya. Yaa kami memang sangat jarang bertemu karena
kesibukan masing-masing dan terpisah oleh jarak puluhan kilometer.
“Yang mana dulu nih yang dijawab?”
“Ah…lama deh, yang mana aja boleh.”
“Aku sama Maya sih udah setuju aja.”
“Terus Riswan sama Fery jadi ikutan?”
“Jadi katanya, tiket dipesan duluan kan?”
“Iya..iya…tenang aja yang penting orangnya dulu dipastiin. Besok filmnya
mulai jam 7, bisa kan?”
“Bisa aja, nanti aku kabarin yang lain. Gak sabar ketemu kalian besok.”
“Hahaha…aku sm Listy juga, kabarin ya kalau mau berangkat…”
“Pasti lah..”
“Udah dulu yaa, mau ngampus dulu nih udah telat. Byee..”,
tut..tut..Desty langsung memutuskan telponnya.
***
Aku melihat ke arah jam tangan ku terus menerus, sudah hampir jam 6 dan
Fery belum juga datang. Jarak bioskop dan rumahku memang jauh, perlu waktu satu
jam untuk bisa ke sana.
“Haduh..Fery kemana sih, lama banget.”
“Sabar dong Wan, bentar lagi mungkin.”
“Kita bisa-bisa ketinggalan filmnya, Put.”
“Terus mau gimana lagi, masa kita ninggalin dia?”
“Udah..udah..Sabar dulu deh Wan, telponin aja orangnya lagi”, Maya
menimpal.
“Dari tadi juga udah ditelponin, tapi ga diangkat.”
Sudah lewat jam 6, sementara Desty sudah sibuk menanyakan kami ada di
mana. Dari kejauhan terlihat Fery datang dengan tergesa-gesa.
“Sory..sory, aku ada ujian mendadak tadi.”
“Udah..jalan aja, ntar kita ketinggalan filmnya lagi.” Segera aku
mengirimkan pesan singkat untuk Desty yang dari tadi terus menelpon.”
***
Jam setengah 8 kami baru sampai. Tepat setengah jam setelah film dimulai
kami datang. Kami bergegas menuju studio, dan segera masuk ke dalam. Desty dan
Listy sudah menunggu kami di dalam.
“Kok lama?” Desty langsung angkat bicara.
“Jalanan macet”, Riswan langsung menjawab.
Desty langsung mencibir dan mengalihkan perhatiannya kembali ke film. Tanpa
sengaja Fery duduk bersebelahan dengan Listy dan tentu saja hal tersebut
membuat Listy sangat senang yaa…Listy memang menyukai Fery sejak SMA. Satu jam
kemudian film selesai. Karena sudah merasa kemalaman kami pun memutuskan untuk
segera pulang. Dijalan pulang, aku yang satu motor dengan Fery saling bercerita
untuk membunuh rasa bosan dan ngantuk dalam perjalanan.
Terbesit rasa tidak nyamanku saat harus satu motor dengan orang yang
sudha lama disukai oleh Listy. Tapi aku tidak mungkin juga berpergian sejauh
itu dan semalam itu menggunakan motor sendiri yaa meskipun Listy selalu bilang
‘gak apa-apa’.
Kami bercerita banyak hal selama perjalanan, Fery menceritakan tentang
kehidupannya dan begitu juga dengan aku. Tanpa sadar aku sudah menceritakan
masalahku dengan kekasihku dengan Fery. Ia memang pendengar yang baik dan ia
menanggapi ceritaku dengan yang baik pula. Fery memang teman yang baik dan juga
pendengar yang baik.
Namun, dari situ ceritaku dimulai. Sejak malam itu Fery selalu
menghubungiku, ia selalu mengirimkan pesan singkat untukku. Mulai dari
menanyakan sesuatu hingga menanyakan kabarku. Hubunganku dengan Fery semakin
membaik dan sebaliknya hubunganku dengan kekasihku semakin memburuk. Kami
selalu saja bertengkar karena sesuatu yang tak perlu, aku mulai jenuh
dengannya. Aku mulai tidak mempedulikannya dan mulai meperdulikan Fery.
Aku lebih sering bertemu dengannya, lebih sering menghubunginya. Sesaat
aku seperti melupakan perasaan Listy padanya. Aku berubah menjadi perempuan
yang jahat yang egois yang hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri. Aku tak
bisa mendeskripsikan bagaimana perasaanku pada Fery, suka? Sayang? Cinta? Atau
tak lebih dari sekedar teman?
Sampai suatu ketika aku memutuskan hubunganku dengan kekasihku, entah
murni karena alasan permasalahan kami berdua atau karena sudah ada Fery
disampingku. Sebulan setelah kami putus hubunganku dengan Fery juga semakin
membaik tapi entah kenapa aku merasa ada yang mengganjal dalam hatiku. Aku
bingung dengan perasaanku sendiri, aku sulit mengartikan perasaan seperti apa
itu. Lebih buruknya lagi aku tidak menceritakan apa yang terjadi kepada Listy,
sahabatku.
Aku memutuskan untuk menceritakan masalahku kepada sahabatku, Akbar.
Akbar memberiku nasehat untuk tidak terburu-buru mengartikan perasaan itu.
Akbar benar, lebih baik jangan terburu-buru daripada nantinya hanya akan
menyakiti perasaan banyak pihak. Tapi aku memang sudah jatuh terlalu dalam dan
sudah tidak mungkin mengembalikannya seperti semula. Beberapa waktu setelah
itu, Fery mengutarakan perasaanya kepadaku. Aku bingung, logika dan perasaanku
saling beradu dengan argumennya masing-masing.
Disatu sisi aku memikirkan perasaan Listy tapi disisi lain aku berpikir
kalau Fery lah yang bisa membantuku untuk ‘move on’. Yaah aku memang perempuan
egois, aku mengiyakan ketika Fery memintaku menjadi kekasihnya. Setelah kami
resmi berpacaran, aku tak merasakan sesuatu yang spesial, tak ada perasaan
bahagia yang membludak ketika itu justru sebaliknya aku merasa semakin
bersalah.
Menjalani hari-hari dengan Fery memang menyenangkan namun entah kenapa
rasa senang itu seperti tertutupi dengan rasa bersalah yang semakin besar. Aku
merahasiakan semuanya dari Listy, aku sudah mengkhianati persahabatan kami, dan
aku sudah menyakiti perasaannya. Setiap kali aku bertemu Listy aku selalu saja
bersikap seolah-olah tidak terjadi apa-apa, hatiku selalu aja menyuruhku untuk
mengatakan yang sebenarnya tapi entah mengapa lidah ku selalu saja kelu,
bibirku seperti terkunci rapat.
Desty dan Maya selalu mendorongku untuk mengatakan yang sebenarnya,
mereka hanya takut persahabatan kami menjadi rusak gara-gara hal tersebut. Aku
pun memutuskan untuk mengatakannya dengan Listy. Aku mengajak Listy untuk
bertemu dan mengobrol berdua, hanya kami berdua tanpa Desty dan Maya. Memang
tak semudah yang ku bayangkan, ada kecanggungan yang tercipta antara kami.
“jadi…gimana?”, Listy memulai percakapan.
“mau dengar dari awal?”, aku balik bertanya.
“tentu saja”.
Aku menceritakan kejadian itu dari awal hingga akhir. “maaf Lis, aku nyesal
udah nyakitin perasaan kamu. Aku memang ngga tegas jadi orang, coba saja kalau
dulu…”
“sudah..sudah..aku juga udah ngga mikirin itu lagi ko, meskipun kemarin
2 hari loh”
“dua hari? Dua hari apa? Jangan bilang kalau kamu nangis dua hari gara-gara
itu”.
“hheee..tapi abis nangis rasanya lega banget”.
Mendengar cerita Listy aku semakin merasa bersalah dan menyesal. Aku nyesal
karena udah tega menyakiti perasaan sahabatku sendiri. Kalau ada orang yang bilang
“berpikirlah dengan menggunakan perasaan” kadang pernyataan tersebut tak
sepenuhnya benar. Ada banyak hal yang kadang tak bisa diselesaikan dengan
menggunakan perasaan, perlu ada campur tangan logika juga di dalamnya. Yaa..hidup
ini seimbang, seimbang antara logika dan juga perasaan.
***
Pikiranku tak juga kembali tenang, masih saja terasa gelisah. Sampai akhirnya
aku berada dititik kejenuhan pada keadaan yang seperti ini.”aku cuma ingin
hidupku tenang”. Aku pun harus membuat keputusan besar yang tentu saja akan
menyakitkan perasaan orang lain. Meskipun Listy berkata dia tidak lagi
mempermasalahkannya tapi aku yakin luka dihatinya tidak semudah itu kering.
Aku memutuskan untuk mengakhiri hubunganku dengan Fery, meskipun aku tau
dia akan terluka. Aku berharap keputusanku ini tidak membuat siapapun terluka,
tapi kenyataannya akan ada orang lain yang terluka. Dan aku memilih untuk
melukai persaan Fery dibandingkan harus melukai perasaan sahabatku lebih dalam
lagi.
Setelah kejadian itu aku bersyukur hubunganku dengan Listy membaik,
namun tidak dengan Fery. Hubungan ku memburuk, sejak aku memutuskan untuk
menyudahi hubungan kami sejak itu juga komunikasi kami terputus hingga
sekarang.
Aku tidak pernah menyesali sedikitpun hubungan yang ku jalani dengan
Fery, yaa arena memang dia orang yang baik. Yang sangat ku sesali sampai
sekarang adalah kenapa aku bisa setega itu menyakiti perasaan sahabatku
sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar